Komdigi Berbagi Buku, Menguatkan Nyala Literasi di Rokan Hulu

30 May 2026
54x Dilihat

“Baca buku itu nutrisi otak. Kalau tidak membaca, otak seperti tidak diberi gizi.”

Kalimat sederhana itu terus dipegang Nirma Herlina saat membangun Rumah Baca Nina di Rokan Hulu, Riau. Di tengah derasnya arus konten digital dan meningkatnya penggunaan gawai pada anak, ia memilih menghadirkan ruang baca sederhana agar anak-anak tetap akrab dengan buku.

Upaya itu kini mendapat dukungan dari Program Komdigi Berbagi Buku yang dijalankan Perpustakaan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Pada Maret 2026, Komdigi menyalurkan 53 judul buku dengan total 64 eksemplar ke Rumah Baca Nina untuk menambah koleksi bacaan bagi anak-anak dan masyarakat sekitar.

Bagi Komdigi, penyaluran buku tidak sekadar kegiatan donasi. Program ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses literasi sekaligus menjawab tantangan rendahnya budaya baca di tengah tingginya konsumsi konten digital.

Kondisi tersebut masih menjadi tantangan di berbagai daerah. Keterbatasan akses buku membuat banyak anak bergantung pada informasi dari media sosial dan internet tanpa pendampingan literasi yang memadai. Di sisi lain, penggunaan gawai yang semakin tinggi ikut memengaruhi kebiasaan membaca dan kemampuan fokus anak.

Oleh karena itu, Komdigi Berbagi Buku diarahkan untuk mendukung ruang belajar masyarakat yang selama ini tumbuh secara mandiri di berbagai daerah. Sejumlah taman bacaan yang telah menerima bantuan antara lain TBM Rumah Kreatif Sahabat Nusantara di Pulau Ende, SDN Wardadi di Pulau Pantar Alor, hingga Rumah Baca Nina di Rokan Hulu.

Rumah Baca Nina, taman bacaan masyarakat yang dikelola secara swadaya di Rokan Hulu.

Rumah Baca Nina, taman bacaan masyarakat yang dikelola secara swadaya di Rokan Hulu.

Rumah Baca Nina, taman bacaan masyarakat yang dikelola secara swadaya di Rokan Hulu.

Nirma, penggerak literasi digital sekaligus Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat Rokan Hulu yang aktif menghadirkan berbagai kegiatan membaca, menulis, dan edukasi literasi bagi anak-anak serta masyarakat. Penambahan koleksi tersebut memperkaya ragam bahan bacaan yang dapat dipinjam siswa dan masyarakat sekitar, sekaligus mendukung berbagai program literasi yang terus dikembangkan Rumah Baca Nina. 

“Baca buku itu nutrisi otak. Kalau tidak membaca, otak seperti tidak diberi gizi.” Kalimat sederhana dari Nirma ini menjadi fondasi berdirinya Rumah Baca Nina. 

Nirma Herlina, pendiri sekaligus pengelola Rumah Baca Nina

Nirma Herlina, pendiri sekaligus pengelola Rumah Baca Nina

Nirma Herlina, pendiri sekaligus pengelola Rumah Baca Nina.

Rumah Baca Nina sendiri berdiri sejak 2017. Awalnya, Nirma hanya mengajak siswa membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Kebiasaan sederhana itu perlahan berkembang menjadi gerakan literasi yang melibatkan sekolah, guru, orang tua, dan komunitas. 

Area baca dan koleksi buku Rumah Baca Nina

Area baca dan koleksi buku Rumah Baca Nina

Area baca dan koleksi buku Rumah Baca Nina.

Kini Rumah Baca Nina tidak hanya menjadi tempat meminjam buku. Tempat itu juga menjadi ruang belajar bersama bagi anak-anak dan masyarakat. Berbagai kegiatan rutin digelar, mulai dari membaca ekspresif, pelatihan menulis kreatif, pendampingan karya tulis siswa, hingga dongeng untuk anak dan orang tua.

Area baca dan koleksi buku Rumah Baca Nina

Area baca dan koleksi buku Rumah Baca Nina

Area baca dan koleksi buku Rumah Baca Nina.

Di tempat ini, berbagai kegiatan edukasi diselenggarakan, mulai dari pelatihan menulis kreatif, membaca ekspresif, hingga mendongeng bagi orang tua dan guru. Program literasi bahkan terintegrasi dengan kegiatan sekolah, di mana siswa didorong membaca minimal enam buku per tahun dan menghasilkan karya tulis sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Kumpulan karya dari para murid binaan dan pegiat literasi Rumah Baca Nina.

Kumpulan karya dari para murid binaan dan pegiat literasi Rumah Baca Nina.

Kumpulan karya dari para murid binaan dan pegiat literasi Rumah Baca Nina.

Rumah Baca Nina juga aktif memberikan edukasi literasi digital kepada anak-anak dan orang tua. Materi yang diberikan mencakup etika bermedia, mengenali hoaks, hingga cara menggunakan internet secara sehat.

Upaya tersebut sejalan dengan kampanye Digital Detox yang terus digaungkan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid untuk mendorong keseimbangan antara penggunaan teknologi dan aktivitas literasi.  Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diajak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga lebih bijak dalam mengelola waktu dan memilih informasi yang dikonsumsi. 

Kumpulan karya dari para murid binaan dan pegiat literasi Rumah Baca Nina.

Kumpulan karya dari para murid binaan dan pegiat literasi Rumah Baca Nina.

Kumpulan karya dari para murid binaan dan pegiat literasi Rumah Baca Nina.

Bagi Rumah Baca Nina, upaya membangun kebiasaan bermedia yang sehat tidak berhenti pada edukasi digital semata. Dalam menjangkau masyarakat, pengelola tidak hanya menunggu kunjungan, tetapi juga melakukan pendekatan “jemput bola” dengan membuka lapak baca di ruang publik serta menyebarluaskan edukasi melalui siaran radio lokal. Pendekatan ini menjadi cara untuk menghadirkan buku lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Meski menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan sumber daya, konsistensi pengunjung, serta risiko kehilangan buku, Rumah Baca Nina tetap berkembang dengan dukungan komunitas dan semangat yang terus dijaga.

“Kalau buku tidak ada di rak, berarti sedang dibaca,” ujar Nirma, berupaya menerapkan cara pandang positif untuk menjaga semangatnya dalam mengelola Rumah Baca Nina tetap hidup.

Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa gerakan literasi tidak selalu lahir dari program besar, melainkan dari upaya yang dijalankan secara konsisten di tengah masyarakat untuk menjaga budaya baca tetap hidup.

Pengelola Rumah Baca Nina bersama perwakilan “Komdigi Berbagi Buku” dari Perpustakaan Kementerian Komdigi

Pengelola Rumah Baca Nina bersama perwakilan “Komdigi Berbagi Buku” dari Perpustakaan Kementerian Komdigi

Pengelola Rumah Baca Nina bersama perwakilan “Komdigi Berbagi Buku” dari Perpustakaan Kementerian Komdigi.

Di tengah banjir informasi digital, ruang baca sederhana seperti Rumah Baca Nina menjadi tempat penting untuk menjaga kemampuan berpikir kritis anak-anak. Kehadiran buku tidak lagi sekadar soal menambah koleksi bacaan, tetapi membantu masyarakat membangun kebiasaan menyaring informasi, memahami pengetahuan, dan tidak mudah percaya hoaks.

Melalui Program Komdigi Berbagi Buku, Kementerian Komdigi ingin memastikan akses literasi dapat menjangkau lebih banyak daerah dan memperkuat gerakan literasi yang tumbuh dari masyarakat.

Sebab di era digital, kemampuan membaca tidak hanya menentukan kualitas pendidikan, tetapi juga menentukan kemampuan masyarakat menghadapi arus informasi yang semakin deras setiap hari.

Tim Penulis dan Dokumentasi:

Fahmie T. Januarsyah, Doni Paulus Sumule, Viskayanesya