Menjaga Gerbang Digital, Menyeimbangkan Perlindungan dan Pertumbuhan
Kementerian Komunikasi dan Digital mengoperasikan laboratorium pengujian yang nyaris tak pernah benar benar sepi. Tenar diresmikan dengan nama Indonesia Digital Test House (IDTH).
Kepala Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi, Rahman mengawal "penyaringan" kualitas dan keamanan hampir semua perangkat menggunakan frekuensi radio yang menyentuh tangan masyarakat.
Sebagai lembaga pengujian perangkat telekomunikasi nasional, BBPPT menjadi penapis pertama ekosistem digital Indonesia. Setiap perangkat TIK yang masuk ke pasar harus diuji. Bukan sekadar memenuhi syarat administrasi, tetapi memastikan keselamatan pengguna dan stabilitas jaringan nasional.
“BBPPT berperan sebagai pintu gerbang keluar masuk perangkat TIK di Indonesia. Artinya, setiap perangkat yang masuk ke pasar Indonesia harus melalui proses pengujian untuk memastikan sesuai standar dan aman digunakan masyarakat,” ungkap Rahman.
Peran ini membuat BBPPT berdiri di persimpangan kepentingan. Di satu sisi melindungi publik dari risiko radiasi berlebih, interferensi, dan perangkat ilegal. Di sisi lain, membantu industri agar tidak terhambat proses panjang yang tidak perlu. Bagi Rahman, keseimbangan itu kunci.
“Dengan sistem yang kredibel dan tersertifikasi ISO IEC 17025, 17043, serta 37001, BBPPT ingin menjadi pilar kepercayaan dalam ekosistem digital nasional,” ujarnya.
Seluruh proses pengujian dijalankan secara digital dan terstruktur. Pendaftaran melalui SIMPEL. Parameter uji mengacu standar global. Proses pengujian terdokumentasi. Laporan hasil uji ditandatangani digital. Semua transparan dan dapat ditelusuri.
“BBPPT berpegang pada standar internasional seperti IEC, ETSI, 3GPP, hingga FCC. Dengan itu, hasil pengujian kami setara dengan laboratorium internasional,” jelas Rahman.
Kesetaraan ini berdampak langsung bagi industri. Perangkat yang lulus uji tidak hanya aman bagi masyarakat, tetapi juga siap bersaing di pasar global. Melalui skema mutual recognition arrangement, hasil uji BBPPT diakui lintas negara. Artinya, produsen tidak perlu mengulang pengujian di banyak tempat.
“Tujuannya agar hasil uji BBPPT diakui lintas negara tanpa perlu diuji ulang,” kata Rahman.
Di bawah kepemimpinannya, inovasi layanan publik menjadi agenda utama. Digitalisasi melalui SIMPEL mempercepat layanan. Automasi pengujian dikembangkan untuk uji berulang seperti RF dan EMC.
“Dengan automasi, waktu pengujian bisa lebih singkat tanpa mengurangi ketelitian,” ungkapnya.
BBPPT juga menyiapkan remote testing access. Pemohon dapat memantau proses pengujian secara real time tanpa harus hadir di lokasi. Bagi Rahman, kecepatan layanan harus sejalan dengan keterbukaan.
“Kami ingin memastikan setiap proses dapat diakses dengan mudah, transparan, dan akuntabel,” ucapnya.
Langkah besar menuju pengakuan global semakin nyata dengan hadirnya laboratorium Tapos yang diresmikan Presiden pada Mei 2024. Fasilitas ini memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat pengujian regional. Namun Rahman menegaskan bahwa gedung bukan segalanya.
“SDM yang kompeten adalah kunci pengakuan global,” tegasnya.
Penguji BBPPT rutin mengikuti pelatihan luar negeri dan forum teknis internasional. Pengetahuan terus diperbarui seiring hadirnya teknologi baru. Dari 5G hingga AIoT.
Di sisi lain, tantangan tetap nyata. Perangkat ilegal masih beredar. Standar teknis sering tertinggal dari laju inovasi. Terkadang teknologi sudah masuk pasar saat harmonisasi standar belum selesai.
“Perangkat tidak tersertifikasi berisiko mengganggu jaringan dan membahayakan pengguna,” tegas Rahman.
Karena itu ia menekankan kolaborasi. Operator, industri, regulator, dan masyarakat harus bergerak bersama.
“Standarisasi perangkat tidak bisa dikerjakan sendiri. Kita harus bersinergi agar konektivitas yang dibangun benar benar bermakna,” ujarnya.
Menutup percakapan, Rahman berbicara dengan nada reflektif. Bagi dirinya, teknologi bukan tujuan akhir. Ia alat untuk memperbaiki kualitas hidup.
“Integritas adalah fondasi. Teknologi boleh berkembang cepat, tapi tanpa integritas, pembangunan tidak akan berkelanjutan,” katanya.
Ia melihat konektivitas bukan sekadar menghubungkan perangkat, tetapi membuka jalan bagi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang lebih adil.
“Konektivitas Indonesia ke depan adalah konektivitas yang aman, merata, dan bermakna. Yang tidak hanya menghubungkan perangkat, tetapi juga memberdayakan setiap warga masyarakat,” pungkasnya.
Rahman dan BBPPT, Jaga Mutu Perangkat Digital Demi Keamanan Publik
Di balik layar perangkat telekomunikasi yang dipakai jutaan orang setiap hari, ada kerja sunyi yang menuntut ketelitian, kejujuran, dan tanggung jawab besar. Rahman memahami betul kerja sunyi itu. Lebih dari tiga dekade ia menapaki jalur teknis telekomunikasi, dari ruang standardisasi hingga pengawasan lapangan, sebelum akhirnya kembali ke titik awal yang membentuknya.
Tahun 1994 menjadi awal pengabdiannya di Direktorat Standardisasi Departemen Penerangan. Saat itu, pengujian perangkat belum berdiri sebagai institusi mandiri. Ia belajar dari dasar. Mengurai spesifikasi. Memahami standar. Menyadari bahwa kualitas teknologi selalu berdampak langsung pada keselamatan publik.
Perjalanannya lalu bergerak ke Direktorat Pengelolaan Frekuensi. Selama enam tahun, ia bergulat dengan perizinan, penataan, dan pengendalian spektrum. Pengalaman itu membentuk cara pandangnya tentang keadilan akses dan tertib kelola. Dari sana, ia dipercaya menangani penyiaran. Lalu kembali ke ranah teknis saat restrukturisasi besar pada 2010.
Di Direktorat Penataan, Rahman memimpin pengelolaan ekonomi spektrum dan proses lelang frekuensi. Ia berada di jantung kebijakan yang menyentuh kepentingan industri dan negara. Setelah itu, ia turun langsung ke lapangan melalui Direktorat Pengendalian. Ia menggagas program Penertiban Nasional untuk menindak penggunaan frekuensi ilegal. Sebuah fase yang mempertemukannya dengan realitas di lapangan dan pentingnya keberanian mengambil keputusan.
Empat setengah tahun di Balai Monitoring Spektrum Frekuensi Radio Kelas I Jakarta menajamkan naluri pengawasannya. Hingga akhirnya, ia dipercaya memimpin Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi.
“Sejak awal saya memang sudah berkecimpung di standardisasi dan pengujian, jadi ketika diberi amanah di sini, rasanya seperti kembali ke rumah,” kata Rahman.
Di BBPPT, Rahman tidak sekadar mengelola laboratorium. Ia menjaga kepercayaan publik. Setiap perangkat yang diuji ia anggap sebagai pintu masuk masyarakat ke dunia digital. Jika pintu itu rapuh, risikonya nyata.
“Integritas dan transparansi adalah prinsip utama yang selalu saya pegang dalam memimpin. Tanpa integritas, organisasi akan sulit dipercaya,” ujarnya.
“Apalagi BBPPT telah meraih predikat Wilayah Bebas Korupsi, maka kepercayaan publik adalah modal utama yang harus dijaga.”
Ia menanamkan nilai kerja yang jelas kepada timnya. Integritas. Akuntabilitas. Kolaborasi. Inovasi. Pelayanan publik. Nilai itu tidak berhenti di slogan. Capaian pengujian perangkat pada 2024 mencapai 97,54 persen. Melebihi target yang ditetapkan.
“Sebagai institusi teknis, kami dituntut menghadirkan hasil yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan,” tuturnya.
Namun Rahman lebih sering berbicara tentang kebersamaan dibanding angka. Ia percaya hasil besar lahir dari rasa saling percaya di dalam tim.
“Keberhasilan tidak lahir dari kerja individu, tetapi hasil sinergi. Karena itu, saya selalu mengedepankan teamwork. Dengan kolaborasi, setiap orang merasa dihargai dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik.”
Ia juga sadar dunia teknologi bergerak cepat. BBPPT harus bergerak seiring. Penambahan layanan pengujian SAR, EMC, dan Laser Safety pada 2024 menjadi wujud keberanian beradaptasi.
“Kami harus berani berinovasi, tidak takut belajar hal baru, dan cepat beradaptasi dengan teknologi terkini,” katanya.
Di balik semua prosedur teknis dan standar pengujian, Rahman selalu kembali pada satu tujuan.
“Pada akhirnya, semua ini untuk masyarakat. Kami ingin memastikan perangkat yang beredar aman, berkualitas, dan mendukung ekosistem digital nasional yang sehat.”
Itulah prinsip yang ia pegang hingga kini. Bekerja dalam senyap. Menjaga mutu. Melindungi publik. Karena bagi Rahman, pengabdian sejati tidak selalu terlihat, tetapi selalu dirasakan dampaknya.
Penulis: Andhika Khoirul Huda, Fotografer: Ardi Widiyansah, Videografer: Cindy Monica Silitonga, Pic: Sri Indrati Noviarsari
sumber: https://www.komdigi.go.id/berita/artikel/detail/menjaga-gerbang-digital-menyeimbangkan-perlindungan-dan-pertumbuhan